Selasa, 31 Januari 2017

Siti Mutmainah - Bahaya Melarat Turunan bagi Intelektualisme Bangsa

Foto by : bonsaibiker.com
Kemelaratan memang selalu menjadi pokok persoalan dalam biduk perekonomian Negara. Berbagai macam cara dan upaya telah diperjuangkan oleh pemerintah untuk memperbaiki permasalahan kemiskinan demi terciptanya kesejahteraan rakyat. Tidak dapat dipungkiri jika sebenarnya problematika ekonomi dan pendidikan merupakan sebuah mata rantai yang saling bertimbal balik. Kualitas suatu bangsa dapat dilihat dari kualitas manusianya yang disokong oleh pendidikannya. Sedangkan kemakmuran dan kesejahteraan warga negara dapat dilihat dari kehidupan ekonominya. Tingkat ekonomi yang rendah memiliki peluang lebih besar terhadap tingkat pendidikan yang rendah pula, misalnya ; Reni merupakan anak Bapak kasim yang merupakan salah satu orang miskin di daerah desa Sukamaju , untuk mendapat sesuap nasi Bapak Kasim harus bekerja keras mati-matian karena pekerjaannya pun masih serabutan, Reni pun akhirnya memilih untuk membantu Orang Tuanya, saat Reni masih SD akhirnya dia sering tidak masuk sekolah karena harus membantu orang tuanya mencari uang, setelah akan melanjutkan ke SMP ternyata nilai yang diperoleh oleh Rini sangat rendah, akhirnya ia pun tidak diterima untuk masuk ke SMP negri karena nilainya yang diluar standar sekolah, sedangkan Reni tidak mempunyai biaya untuk melanjutan ke SMP swasta, akhirnya terpaksa Reni harus putus sekolah dan kembali menjadi orang miskin seperti bapaknya karena minimnya kecakapan yang dia punya untuk bekerja sehingga sulit untuk bersaing didunia kerja, jika hal ini terus berlanjut ke anak Reni dan akhirnya menjadi miskin harta serta miskin ilmu seperti dirinya, maka inilah yang dikatakan miskin atau melarat turunan. Hal semacam ini sering terjadi dikalangan bangsa Indonesia yang memiliki taraf hidup rendah, dan jika hal ini terus-menerus terjadi maka keutuhan bangsa akan menjadi ancaman bagi Negara. Kemiskinan dimana-mana, kebodohakan meraja lela, apalagi jika ditambah dengan persoalan hukum yang kian merunyam, saat pemerintah tidak dapat lagi untuk memimpin warganya dengan bijak, korupsi disana-sini, kejujuran menjadi barang langka sehingga perekonomian Negara pun semakin ambruk, maka kita hanya tinggal menunggu waktu akan hancurnya negeri ini sebagai akibat dari ulah penduduknya sendiri. Tingkat kemiskinan di Indonesia berdasarkan pada data tahun 2009 sebesar 14,15 persen, dengan jumlah orang yang berada digaris kemisinan mencapai 32,53 juta penduduk.[1]
            Inilah yang menyebabkan bahwa kebodohan akan menjadi sumber penyebab atas kehancuran bangsa, Karena segala polemik berantai akan datang kepada bangsa yang bodoh. Hal ini seangat bertentangan dengan cita-cita Negara yang tertera pada pembukaan UUD yaitu “untuk mencerdaskan kehidupan bangsa”. Kebodohan yang menggerogoti masyarakat akan mencetak kembali generasi yang bodoh dan kebodohan itulah yang akan mengantarkan pada problematika kemiskinan suatu Negara, sehingga kemelaratan itu akan terus terwaris dari generasi ke generasi. Apalagi sebagian besar foktor penyebab rendahnya tingkat [pendidikan adalah dikarenakan oleh mahalnya biaya pendidikan, ytang dirasa tidak mampu oleh sebagian besar masyarakat miskin.[2]
            Tentu sebagai warga Negara kita selalu ingin bahwa Negara kita akan berkembang sehingga menjadi Negara maju dengan kehidupan masyarakat yang sejahtera dan tidak kekurangan. Olehkarena itu “melarat turunan” yang disebabkan oleh kebodohan harus segera dihentikan demi teraihnya cita-cita bangsa dan masyarakatnya tumbuh sebagai masyarakat  yg intelektual.




[1] Tnp2k.http://tnp2k/Kebijakan-Percepatan/perkembangan-tingkat-kemiskinan
[2] AnadwiWahyuni.http://anandiwahyuni/pendidikan/penyebab-rendahnya-tingkat-pendidikan-di-Indonesia.

1 komentar:

  1. Tulisan yang bagus. Dalam sudut pandang saya pribadi satu cara untuk mengurangi jumlah "melarat turunan" karena kebodohan terutama dengan cara meningkatkan intelektualitas masyarakat adalah melalui pemberdayaan masyarakat pedesaan ataupun pedalaman yang rata-rata masih rendah dalam hal tersebut. Perberdayaan ini dapat dilakukan dengan mengoptimalkan para lulusan akademik yang ada dengan pendekatan yang merakyat. Dengan begitu masyarakat akan lebih mudah menerima dan turut menyukseskan peningkatan intelektualitas tanpa merasa dipandang sebelah mata.

    BalasHapus