![]() |
| Foto by : bonsaibiker.com |
Kemelaratan
memang selalu menjadi pokok persoalan dalam biduk perekonomian Negara. Berbagai
macam cara dan upaya telah diperjuangkan oleh pemerintah untuk memperbaiki
permasalahan kemiskinan demi terciptanya kesejahteraan rakyat. Tidak dapat
dipungkiri jika sebenarnya problematika ekonomi dan pendidikan merupakan sebuah
mata rantai yang saling bertimbal balik. Kualitas suatu bangsa dapat dilihat
dari kualitas manusianya yang disokong oleh pendidikannya. Sedangkan kemakmuran
dan kesejahteraan warga negara dapat dilihat dari kehidupan ekonominya. Tingkat
ekonomi yang rendah memiliki peluang lebih besar terhadap tingkat pendidikan
yang rendah pula, misalnya ; Reni merupakan anak Bapak kasim yang merupakan
salah satu orang miskin di daerah desa Sukamaju , untuk mendapat sesuap nasi
Bapak Kasim harus bekerja keras mati-matian karena pekerjaannya pun masih
serabutan, Reni pun akhirnya memilih untuk membantu Orang Tuanya, saat Reni
masih SD akhirnya dia sering tidak masuk sekolah karena harus membantu orang
tuanya mencari uang, setelah akan melanjutkan ke SMP ternyata nilai yang
diperoleh oleh Rini sangat rendah, akhirnya ia pun tidak diterima untuk masuk
ke SMP negri karena nilainya yang diluar standar sekolah, sedangkan Reni tidak
mempunyai biaya untuk melanjutan ke SMP swasta, akhirnya terpaksa Reni harus
putus sekolah dan kembali menjadi orang miskin seperti bapaknya karena minimnya
kecakapan yang dia punya untuk bekerja sehingga sulit untuk bersaing didunia
kerja, jika hal ini terus berlanjut ke anak Reni dan akhirnya menjadi miskin
harta serta miskin ilmu seperti dirinya, maka inilah yang dikatakan miskin atau
melarat turunan. Hal semacam ini sering terjadi dikalangan bangsa Indonesia
yang memiliki taraf hidup rendah, dan jika hal ini terus-menerus terjadi maka
keutuhan bangsa akan menjadi ancaman bagi Negara. Kemiskinan dimana-mana,
kebodohakan meraja lela, apalagi jika ditambah dengan persoalan hukum yang kian
merunyam, saat pemerintah tidak dapat lagi untuk memimpin warganya dengan
bijak, korupsi disana-sini, kejujuran menjadi barang langka sehingga perekonomian
Negara pun semakin ambruk, maka kita hanya tinggal menunggu waktu akan
hancurnya negeri ini sebagai akibat dari ulah penduduknya sendiri. Tingkat
kemiskinan di Indonesia berdasarkan pada data tahun 2009 sebesar 14,15 persen,
dengan jumlah orang yang berada digaris kemisinan mencapai 32,53 juta penduduk.[1]
Inilah yang menyebabkan bahwa
kebodohan akan menjadi sumber penyebab atas kehancuran bangsa, Karena segala
polemik berantai akan datang kepada bangsa yang bodoh. Hal ini seangat
bertentangan dengan cita-cita Negara yang tertera pada pembukaan UUD yaitu
“untuk mencerdaskan kehidupan bangsa”. Kebodohan yang menggerogoti masyarakat
akan mencetak kembali generasi yang bodoh dan kebodohan itulah yang akan
mengantarkan pada problematika kemiskinan suatu Negara, sehingga kemelaratan
itu akan terus terwaris dari generasi ke generasi. Apalagi sebagian besar
foktor penyebab rendahnya tingkat [pendidikan adalah dikarenakan oleh mahalnya
biaya pendidikan, ytang dirasa tidak mampu oleh sebagian besar masyarakat
miskin.[2]
Tentu sebagai warga Negara kita
selalu ingin bahwa Negara kita akan berkembang sehingga menjadi Negara maju
dengan kehidupan masyarakat yang sejahtera dan tidak kekurangan. Olehkarena itu
“melarat turunan” yang disebabkan oleh kebodohan harus segera dihentikan demi
teraihnya cita-cita bangsa dan masyarakatnya tumbuh sebagai masyarakat yg intelektual.

Tulisan yang bagus. Dalam sudut pandang saya pribadi satu cara untuk mengurangi jumlah "melarat turunan" karena kebodohan terutama dengan cara meningkatkan intelektualitas masyarakat adalah melalui pemberdayaan masyarakat pedesaan ataupun pedalaman yang rata-rata masih rendah dalam hal tersebut. Perberdayaan ini dapat dilakukan dengan mengoptimalkan para lulusan akademik yang ada dengan pendekatan yang merakyat. Dengan begitu masyarakat akan lebih mudah menerima dan turut menyukseskan peningkatan intelektualitas tanpa merasa dipandang sebelah mata.
BalasHapus