Minggu, 29 Januari 2017

AISYAH SALSABILA PUTRI - PEMUDA HARAPAN BANGSA DENGAN SEMANGAT MEMBACA


Minat membaca berbanding lurus dengan tingkat kemajuan pendidikan suatu bangsa sebagai indikator sumber daya manusia (SDM) suatu negara. Parameter kualitas suatu bangsa dapat dilihat dari kondisi pendidikannya. Kondisi pendidikan suatu negara dilihat dari kebiasaan masyarakat Indonesia membaca buku.
Menurut Direktur Eksekutif Kompas Gramedia, Suwandi S. Subrata, pada tahun 2011 tercatat produksi buku di Indonesia sekitar 20.000 judul buku. Jika dibandingkan dengan penduduk Indonesia yang sekitar 240 juta, angka ini sangat memiriskan. Satu buku dibaca 80.000 orang. Berbasarkan hasil survei dari UNDP, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada 2014, menempati urutan ke- 108 dari 187 negara di dunia.  IPM Indonesia lebih tinggi dibandingkan Myanmar, Laos, Kamboja, Vietnam dan Filipina, namun jauh di bawah Singapura yang menempati posisi sembilan, juga di bawah Brunei Darussalam, Malaysia dan Thailand. Dengan demikian, tidaklah mengherankan bila sumber daya manusia (SDM) Indonesia masih dikatakan rendah dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia.
Kantor Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mencatat 90 persen penduduk usia di atas 10 tahun gemar menonton televisi, tetapi tidak suka membaca buku. Dibuktikan dengan sistem pembelajaran di Indonesia nol buku atau tidak ada kewajiban untuk menamatkan satu judul buku pun dibandingkan dengan negara tetangganya seperti di Malaysia dan Singapura mewajibkan siswa-siswinya menamatkan enam buku, di Thailand lima buku. Kondisi ini  pun masih berlangsung hingga sekarang.
Kita bisa meneladani sikap positif bangsa Jepang dalam membudayakan membaca. Ibarat sandang, pangan dan papan, membaca merupakan bagian dari kehidupan mereka tiap harinya. Mengingat sejarah Jepang pada tahun 1945, Kota Nagasaki dan Hiroshima dibom atom oleh sekutu. Dengan hancurnya itulah yang membangkitkan Jepang untuk menjadi negara maju dengan mengumpulkan para guru, menerjemahkan buku-buku asing dari Barat, dan upaya lainnya, sehingga kepedulian pemerintah dalam sistem pendidikan sangat berpengaruh terhadap kemajuan bangsa itu sendiri.
Melihat sekarang sudah 70 tahun Indonesia merdeka dan semakin banyak masyarakat yang bisa menikmati pendidikan, seharusnya tingkat minat baca masyarakat Indonesia bisa bertambah baik, namun hal ini berbanding terbalik dengan kenyataan yang kita alami sekarang. Kita bahkan dikenal sebagai bangsa yang rendah sekali minat bacanya, padahal minat baca ini bisa menjadi tolak ukur tingkat kemajuan pendidikan dan kualitas suatu bangsa.

Tentunya ini menjadi permasalahan yang kompleks dan perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah dalam meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Seharusnya kita dapat mengevaluasi diri dari tahun-tahun sebelumnya. Malaysia yang dahulu belajar dari bangsa Indonesia kini berbanding terbalik. Tingkat pendidikan negara Malaysia jauh lebih baik dibanding negeri kita tercinta.

Tentunya kita tidak ingin dianggap sebagai negara yang bodoh dan berpendidikan rendah. Sebagai negara yang telah lama merdeka dan ingin bisa menjadi bangsa yang unggul, maka sudah seharusnya kita lebih mengembangkan diri untuk lebih meningkatkan minat baca kita. Semua pihak harus turut serta, baik itu pemerintah ataupun masyarakat. Banyak upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan minat baca, seperti pembangunan perpustakaan ataupun taman bacaan di lingkungan masyarakat. Tak hanya pemerintah, masyarakat juga memiliki peranan penting terhadap minat baca ini.

Seseorang yang gemar membaca dibesarkan dari lingkungan yang cinta membaca. Jika seseorang tidak suka membaca berarti sejak kecilnya dibesarkan oleh orangtua yang tidak pernah mendekatkan dirinya pada bacaan. Oleh karena itu, kita dapat memulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang, kita bertransformasi menjadi pemuda-pemudi yang terbiasa membaca buku dan lingkungan sekitarnya seperti masyarakat di negara maju yang telah memiliki motivasi untuk membaca. Dengan demikian, cita-cita sekaligus harapan kita tepatnya pada Hari Sumpah Pemuda yang diperingati pada tanggal 28 Oktober, era kini, maupun masa yang akan dating, untuk menjadi bangsa yang unggul dan bermartabat tidak hanya sekedar kata-kata.

3 komentar:

  1. Tulisan yang bagus. Memang benar membaca adalah suatu keniscayaan untuk menghidupkan diri, akal, serta hati. Namin menurut hemat saya, membaca tidak hanya membaca tulisan. Membaca adalah satu kegiatan untuk menerjemahkan dan mengembangkan apa yang dibaca tidak hanya terbatas pada tulisan bernertuk aksara. Karena seluruh bagian dari alam menurut saya adalah bacaan. Jadi, untuk membangkitkan minat membaca salah satunya adalah bisa dimulai dengan menumbuhkan mindset te,tang bacaan itu sendiri agar luas dan tidak hanya terbatas pada tulisan aksara....

    BalasHapus
  2. yup setuju sekali. kebiasaan membaca harus dimulai dari diri sendiri.

    BalasHapus
  3. Membaca adalah bekal kita untuk masa depan ,dalam pepatah mengatakan bahwa ilmu adalah hal yang mahal maka carilah ilmu walaupun dinegeri cina
    Terus membaca dan membaca

    BalasHapus