Sabtu, 18 Maret 2017

“Interkoneksi Antara Karya dan Harta” Oleh :’Izzatus Shobyatin

            Di zaman yang serba modern seperti saat ini kita tentu sangat dimudahkan dengan  berbagai hal mulai dari berkomunikasi sampai berliterasi. Jika kita telisik lebih mendalam manusia di zaman modern memiliki tingkat kreativitas yang tinggi dalam mengembangkan dunia melalui sebuah karya. Lalu apakah sebuah karya setiap saat mampu menjadi alat produksi yang produktif dalam menghasilkan harta ? Tentu saja iya, harta tak lagi diukur dari berapa jumlah uang yang dapat kita kumpulkan baik selama sebulan maupun setahun. Harta adalah sebuah aset kekayaan yang bisa kita nikmati hasilnya. Salah satunya kekayaan dalam bidang akademik melalui wawasan dan cakrawala yang kita dalami dan tularkan ke sesama. Karna itulah sebuah karya merupakan harta yang saling terkoneksi dengan kemajuan yang ada.
            Namun tidak dapat dipungkiri pengembangan tingkat SDM di Indonesia masih juga dibatasi oleh kondisi ekonomi yang makin mencekik. Dengan sebuah alibi bahwa anak miskin tidak memiliki masa depan berupa impian untuk  merasakan pendidikan. Tentu saja pendapat itu tidak lagi dibenarkan jika banyaknya pembenaran dan pembuktian yang terjadi.Seperti Choirul Tanjung, Bob Sadino, Iwan Fals, Joko Widodo dan masih banyak lagi kisah-kisah inspiratif lainnya.Bukan lantas seseorang yang miskin tak dapat mendulang sebuah kesuksesan. Dan bukan  hanya anak-anak yang mampu menghabiskan pendidikan sajalah  yang mampu memiliki kesuksesan.
Kesuksesan bukan harga mati yang bisa dilabelkan ke setiap insan. Kesuksesan adalah sebuah titik gemilang yang didapat dari berbagai pencapaian, dimana bisa dinikmati oleh siapa saja. Kesuksesan hanya akan dirasakan oleh setiap individu yang mau belajar, memperbaiki diri dan menghasilkan karya. Karya bisa hadir dalam kondisi apapun , baik saat bahagia ataupun nestapa.Pada saat itulah sebuah karya hadir yang kemudian sedikit demi sedikit menghasilkan sebuah harta yang tak terduga-duga.Tentu ini menambah benefit bagi kita yang mau bekerja keras dalam menghasilkan sebuah karya. Meskipun karya juga merupakan sebuah harta bagi peradaban manusia.
Interkoneksi antara karya dan harta menjadi sangat masif bagi kemajuan bangsa.Hal ini juga menyita perhatian dalam kacamata kita sebagai manusia yang beradab karna dianggap sangat koheren dan lekat dengan pendidikan dan kemiskinan. Kemiskinan dapat diatasi jika setiap insan mampu memperdayagunakan SDM yang dimiliki melalui pengasahan dan latihan secara berkala dengan pendidikan baik secara formal maupun nonformal, Pendidikan juga dapat diperoleh melalui belajar secara otodidak dengan spirit yang kuat. Manusia dibekali akal secara gratis oleh Tuhan YME sebagai modal awal untuk mengubah kehidupannya menjadi jauh lebih baik. Sayangnya hal ini masih juga tersendat, menurut survei yang dilakukan oleh UNICEF pada tahun 2012 masih tercatat sekitar 2,3 juta anak Indonesia usia 7-15 tahun  atau sekitar 42 % dari jumlah anak di Indonesia telah putus sekolah. Angka yang sangat besar, jika mengingat nasib negeri di pikul oleh mereka para generasi muda. Jika hal ini terus dibiarkan maka tak dapat dipungkiri bahwa jumlah itu makin besar adanya. Penguasaan wawasan menjadi sangat penting dalam pengembangan pribadi yang mampu berkontribusi melalui karya yang dimiliki.
Kondisi miskin menjadi sebuah celah dalam tindak kejahatan,baik pencurian hingga pembunuhan. Namun, hal ini harus ditumpas agar mereka tak hidup berantakan serta menjadi masalah sosial yang memproduksi lebih banyak pengangguran. Karna itulah sudah menjadi beban pemerintah bangsa untuk mengubah kemiskinan menjadi  sebuah intan yang menghasilkan banyak perubahan. Dengan kekuasaan yang dimiliki tentu menjadi cukup modal dalam mengubah sudut pandang yang sudah terpola sejak kemiskinan merajalela. Anggapan kaum jelata yang tak berguna bisa dirubah menjadi generasi harapan bangsa yang kaya akan karya dan mampu mengubah nasib bangsa yang kecil kerdil ini menjadi sangat adidaya dalam menyejahterakan bangsanya.
Progam pemerintah untuk memberikan dana pendidikan berupa beasiswa memang sudah dirasa pas terutma anggaran yang dikucurkan dan digelontorkan. Bahkan di tahun 2017 menurut koran harian tempo.com bahwa Menteri Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir mengatakan bahwa pihaknya menggelontorkan dana untuk penelitian sebesar Rp 1,395 Triliun dan penambahan alokasi untuk PTN sebesar Rp 380,4 Miliar dan dana pengabdian masyarakat senilai Rp 150 Miliar (06/01/2017). Jumlah yang sangat besar jika mampu dimaksimalkan karna akan sangat berdaya guna bagi masyarakat. Namun angka tersebut masih sangat minim jika dibandingkan dengan negara-negara lain.
Alokasi dana pendidikan pada tahun 2016 menghabiskan 20 % dari total belanja. Menurut artikel liputan6.com menyebutkan bahwa anggaran pendidikan dan kebudayaan telah menghabiskan sebesar Rp.419,2 triliun secara keseluruhan di tahun lalu. Pengeluaran secara besar-besaran tersebut masih mengubah sebagian kecil dari kehidupan yang terhimpit. Peningkatan pendapatan perkapitapun masih belum cukup tumbuh subur seperti yang dilansir dalam laporan BPS (Badan Pusat Statistik) bahwa pendapatan perkapita mencapai 45,2 juta/tahun atau US$ 3.371,1 namun angka ini masih sangat jauh dibandingkan dengan negara-negara lain seperti negara serumpunnya baik Malaysia,Singapura maupun Brunei Darussalam.
Bantuan pemerintah sebagai penyedia dana belum juga dianggap selesai jika belum mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup besar bagi bangsanya. Setelah lulus dalam studi tentu berjuta-juta orang akan berebut untuk mendapatkan pekerjaan dalam sebuah instansi. Karna itulah setiap tahun perguruan tinggi menjadi suplayer terbesar untuk menghasilkan para  pengangguran. Bukan menghasilkan banyak tenaga dan akademisi sebagai SDM berkualitas penyumbang investasi dalam mengatasi ekonomi. Setidaknya selain ilmu pengetahuan kita dapat mengasah softskill agar mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan tuan di dalam negerinya, Tak hanya mampu menjadi pesuruh perusahaan asing di negerinya. Sehingga ia tidak dituakan dengan pengabdian  sebagai buruh sejati yang berkecaduan terhadap nasib penguasa luar negeri.

Peran pemerintah menjadi aspek bantuan yang harus kita hormati dan kita junjung sebagai motivasi dan cambuk dalam memperbaiki negeri sendiri. Spirit anak bangsa dalam mengembangkan masa depan dengan merubah ekonomi agar lebih sejahtera dan  berdaya guna. Semoga segala perjuangan para pahlawan mampu merefleksi arti sebuah perjuangan di era digital dengan melawan kemajuan dan kemiskinan dengan segala tantangan yang dijawab lewat penerapan secara konkrit dalam menghadapi masalah-masalah sosial termasuk pendidikan dan kemiskinan.

Minggu, 12 Maret 2017

Mia Anggrraini Mustika Dewi - HUBUNGAN KEMISKINAN DENGAN TINGKAT PENDIDIKAN

           Pendidikan  merupakan salah satu tolak ukur  maju ataupun tidaknya suatu negara, jika pendidikan di negara itu maju, maka majulah juga semua bidang di negara itu. Dengan berbekal pendidikan suatu bangsa dapat bangkit dari keterpurukanya. Namun dapat kita saksikan  bahwa tidak semua masyarakat di Indonesia dapat mengenyam  bangku pendidikan.
            Begitu pula masalah kemiskinan, masalah kemiskinan selalu menjdi fokus permasalahan di pemerintahan, termasuk di Indonesia. Masalah kemiskinan di pengaruhi oleh laju pertumbuhan penduduk yang menyebakan banyaknya pengangguran, ketimpangan sosial, dan juga masalah pada bidang pendidikan. Saat ini untuk dapat mengenyam pendidikan dengan kualitas yang baik maka para orang tua harus membayar yang lebih, namun untuk para keluarga yang kurang mampu  hanya mendapat pendidikan yang di bawah standart, atau bisa jadi mereka putus sekolah karena tidak dapat membayar biaya sekolah.
            Bagi bangsa ynag memnginginkan negaranya maju maka kualitas pendidikanlah yang sangat perlu diperbaiki. Dan kita semua juga mengetahui kan bahwa sebagian besar dari masyarakat di indonesia tergolong berekonomi  rendah, dan mereka masih bisa dikatakan  masih terlilit predikat miskin. Kini kita dapat melihat bahwa semua jenjang sekolah negeri sudah menjadi lembaga yang komersial , yang bertindak bukanlah persyaratan dari kurikuler. Anak – anak yang telah berusia 7 tahun harus dimasukan sekolah dasar. Dan peraturan ini tidak dapat ditawar lagi, untuk persyaratan masuk sekolah dasar didasarkan pada umur.
            Namun pada kenyataanya program belajar ini malah dipersulit lagi dengan mahalnya biaya masuk sekolah dasar, sehingga masyarakat yang berekonomi rendah tidak dapat membayar biaya tersebut. Bagi masyarakat yang kaya tidak ada masalah bagi mereka, mereka bisa menyekolahkan anaknya di sekolah negeri dengan mudahnya, sedangkan masyarakat yng miskin akan sulit untuk bersekolah dan juga parahnya mereka akan tidak bersekolah.
            Dan untuk masuk di sekolah swasta tambah sulit lagi bagi masyarakat miskin. Dampaknya para anak bangsa akan kesulitan untuk mendapat kesempatan mengenyam bangku sekolah meskipun hanya 9 tahun. Sungguh sangat di sesalkan padahal negara ini telah merdeka selama 60 tahun, namun sangat di sayangkan masih banyak anak bangsa yang buta huruf karena terlilit keadaan kemiskinan di negeri ini, negeri yang kaya namun penghuninya miskin, hal ini dapat memperburuk kedaan negeri karena kualitas sumber daya manusia menurun, dan mereka tidak mampu bersaing dengan negara negara lain
            Dengan demikian  maka pembekalan ilmu sosial sangatlah penting karena merka akan memiliki harga diri, menambah wawasan  mereka, sehingga mereka tidak akan bertindak yang bodoh untuk kemajuan negeri ini. Namun kembali lagi pada permasalahan di awal yaitu jika praktik praktik pungutan di sekolah sekolah tetap dibiarkan maka hal tersebut akan menambah deretan anak – anak bangsa yang tidak dapat bersekolah dan parahnya mereka mengalami buta huruf. Dan pada akhirnya negeri ini akan dihuni oleh si golongan kaya yang  yang mempunyai kelas tersendiri. Dan untuk si golongan miskin mereka akan menjadi golongan yang tersisih dan tidak terpelajar, dan jika itu benar terjadi, maka mau jadi apa negeri kita yang akan berakibat pada kesenjangan sosial. Namun anehnya kasus seperti ini malah terjadi pada saat telah dilaksanakan otonomi daerah, yang seharusnya ekonomi dari pada masyarakat suau daerah tersebut sudah dapat dikontrol dengan mudah.
            Pendidikan sangatlah penting, namun karena mahalnya biaya pendidikan malah justru menghambat perkembangan pendidikan di Indoneia hal ini dikarenakan keadaan ekonomi sebagian masyarakat masih rendah atau dapat dikatakan miskin. Hal tersebut menyebabkan mereka mendapatkan pendidikan yang minim.
            Dampak kemiskinan pada pendidikan sangatlah besar. Jika kemiskinan tidak segera di atasi maka tingkat pendidikan akan terus menerus menurun karena biayanya sangat mahal, padahal  pada zaman yang modern ini tingkat pendidikan sangatlah penting untuk dapat mengimbangi persaingan antar negara - negara
            Kemiskinan merupakan masalah yang paling pokok dalam kehidupan manusia. Kemiskinan memberikan dampak yang luar biasa pada seluruh bidang, terutama pada bidang pendidikan.  Sebenarnya pemerintah juga telah memberikan beberapa bantuan pada masyarakat, seperti bantuan warga tidak mampu, serta  pada bidang pendidikan, yang bisa dibilang cukup besar, namun mengapa angka kemiskinan tetap saja tinggi. Faktor kemiskinan yaitu karena meningkatnya jumlah penduduk namun tidak diimbangi dengan kualiatas sumber daya manusianya itu sendiri, juga tidak meratanya pendidikan, contohnya seperti di daerah yang terisolasi pendidikan mereka sangatlah minim karena sekolah serta tenaga pengajarnya juga seadanya, dan juga disebabkan oleh para pejabat yang melakukan korupsi.

            Dampak kemiskinan dengan tingkat pendidikan yaitu banyaknya anak anak usia produktif yang putus sekolah, bahkan ada juga yang memang tidak berskolah, dan itu disebabkan karena masalah biaya. Bantuan sosial yang dapat dilakukan yaitu dengan menyamaratakn pendidikan di daerah pusat maupun di dareah terpencil sekalipun, membantu modal bagi yang perekonomianya lemah, dan juga proses pemberantasan korupsi.