Di zaman yang serba modern seperti saat ini kita tentu sangat
dimudahkan dengan berbagai hal mulai
dari berkomunikasi sampai berliterasi. Jika kita telisik lebih mendalam manusia
di zaman modern memiliki tingkat kreativitas yang tinggi dalam mengembangkan
dunia melalui sebuah karya. Lalu apakah sebuah karya setiap saat mampu menjadi
alat produksi yang produktif dalam menghasilkan harta ? Tentu saja iya, harta
tak lagi diukur dari berapa jumlah uang yang dapat kita kumpulkan baik selama
sebulan maupun setahun. Harta adalah sebuah aset kekayaan yang bisa kita
nikmati hasilnya. Salah satunya kekayaan dalam bidang akademik melalui wawasan
dan cakrawala yang kita dalami dan tularkan ke sesama. Karna itulah sebuah
karya merupakan harta yang saling terkoneksi dengan kemajuan yang ada.
Namun tidak dapat
dipungkiri pengembangan tingkat SDM di Indonesia masih juga dibatasi oleh
kondisi ekonomi yang makin mencekik. Dengan sebuah alibi bahwa anak miskin
tidak memiliki masa depan berupa impian untuk
merasakan pendidikan. Tentu saja pendapat itu tidak lagi dibenarkan jika
banyaknya pembenaran dan pembuktian yang terjadi.Seperti Choirul Tanjung, Bob
Sadino, Iwan Fals, Joko Widodo dan masih banyak lagi kisah-kisah inspiratif
lainnya.Bukan lantas seseorang yang miskin tak dapat mendulang sebuah
kesuksesan. Dan bukan hanya anak-anak
yang mampu menghabiskan pendidikan sajalah
yang mampu memiliki kesuksesan.
Kesuksesan bukan harga mati yang bisa dilabelkan ke setiap insan.
Kesuksesan adalah sebuah titik gemilang yang didapat dari berbagai pencapaian,
dimana bisa dinikmati oleh siapa saja. Kesuksesan hanya akan dirasakan oleh
setiap individu yang mau belajar, memperbaiki diri dan menghasilkan karya.
Karya bisa hadir dalam kondisi apapun , baik saat bahagia ataupun nestapa.Pada
saat itulah sebuah karya hadir yang kemudian sedikit demi sedikit menghasilkan
sebuah harta yang tak terduga-duga.Tentu ini menambah benefit bagi kita yang
mau bekerja keras dalam menghasilkan sebuah karya. Meskipun karya juga
merupakan sebuah harta bagi peradaban manusia.
Interkoneksi antara karya dan harta menjadi sangat masif bagi
kemajuan bangsa.Hal ini juga menyita perhatian dalam kacamata kita sebagai
manusia yang beradab karna dianggap sangat koheren dan lekat dengan pendidikan
dan kemiskinan. Kemiskinan dapat diatasi jika setiap insan mampu
memperdayagunakan SDM yang dimiliki melalui pengasahan dan latihan secara
berkala dengan pendidikan baik secara formal maupun nonformal, Pendidikan juga
dapat diperoleh melalui belajar secara otodidak dengan spirit yang kuat.
Manusia dibekali akal secara gratis oleh Tuhan YME sebagai modal awal untuk
mengubah kehidupannya menjadi jauh lebih baik. Sayangnya hal ini masih juga
tersendat, menurut survei yang dilakukan oleh UNICEF pada tahun 2012 masih
tercatat sekitar 2,3 juta anak Indonesia usia 7-15 tahun atau sekitar 42 % dari jumlah anak di
Indonesia telah putus sekolah. Angka yang sangat besar, jika mengingat nasib
negeri di pikul oleh mereka para generasi muda. Jika hal ini terus dibiarkan
maka tak dapat dipungkiri bahwa jumlah itu makin besar adanya. Penguasaan
wawasan menjadi sangat penting dalam pengembangan pribadi yang mampu
berkontribusi melalui karya yang dimiliki.
Kondisi miskin menjadi sebuah celah dalam tindak kejahatan,baik
pencurian hingga pembunuhan. Namun, hal ini harus ditumpas agar mereka tak
hidup berantakan serta menjadi masalah sosial yang memproduksi lebih banyak
pengangguran. Karna itulah sudah menjadi beban pemerintah bangsa untuk mengubah
kemiskinan menjadi sebuah intan yang
menghasilkan banyak perubahan. Dengan kekuasaan yang dimiliki tentu menjadi
cukup modal dalam mengubah sudut pandang yang sudah terpola sejak kemiskinan
merajalela. Anggapan kaum jelata yang tak berguna bisa dirubah menjadi generasi
harapan bangsa yang kaya akan karya dan mampu mengubah nasib bangsa yang kecil
kerdil ini menjadi sangat adidaya dalam menyejahterakan bangsanya.
Progam pemerintah untuk memberikan dana pendidikan berupa beasiswa
memang sudah dirasa pas terutma anggaran yang dikucurkan dan digelontorkan.
Bahkan di tahun 2017 menurut koran harian tempo.com bahwa Menteri Teknologi dan
Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir mengatakan bahwa pihaknya menggelontorkan dana
untuk penelitian sebesar Rp 1,395 Triliun dan penambahan alokasi untuk PTN
sebesar Rp 380,4 Miliar dan dana pengabdian masyarakat senilai Rp 150 Miliar
(06/01/2017). Jumlah yang sangat besar jika mampu dimaksimalkan karna akan
sangat berdaya guna bagi masyarakat. Namun angka tersebut masih sangat minim
jika dibandingkan dengan negara-negara lain.
Alokasi dana pendidikan pada tahun 2016 menghabiskan 20 % dari
total belanja. Menurut artikel liputan6.com menyebutkan bahwa anggaran pendidikan
dan kebudayaan telah menghabiskan sebesar Rp.419,2 triliun secara keseluruhan
di tahun lalu. Pengeluaran secara besar-besaran tersebut masih mengubah
sebagian kecil dari kehidupan yang terhimpit. Peningkatan pendapatan
perkapitapun masih belum cukup tumbuh subur seperti yang dilansir dalam laporan
BPS (Badan Pusat Statistik) bahwa pendapatan perkapita mencapai 45,2 juta/tahun
atau US$ 3.371,1 namun angka ini masih sangat jauh dibandingkan dengan
negara-negara lain seperti negara serumpunnya baik Malaysia,Singapura maupun
Brunei Darussalam.
Bantuan pemerintah sebagai penyedia dana belum juga dianggap
selesai jika belum mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup besar bagi
bangsanya. Setelah lulus dalam studi tentu berjuta-juta orang akan berebut
untuk mendapatkan pekerjaan dalam sebuah instansi. Karna itulah setiap tahun
perguruan tinggi menjadi suplayer terbesar untuk menghasilkan para pengangguran. Bukan menghasilkan banyak
tenaga dan akademisi sebagai SDM berkualitas penyumbang investasi dalam
mengatasi ekonomi. Setidaknya selain ilmu pengetahuan kita dapat mengasah
softskill agar mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan tuan di dalam
negerinya, Tak hanya mampu menjadi pesuruh perusahaan asing di negerinya.
Sehingga ia tidak dituakan dengan pengabdian
sebagai buruh sejati yang berkecaduan terhadap nasib penguasa luar
negeri.
Peran pemerintah menjadi aspek bantuan yang harus kita hormati dan
kita junjung sebagai motivasi dan cambuk dalam memperbaiki negeri sendiri.
Spirit anak bangsa dalam mengembangkan masa depan dengan merubah ekonomi agar
lebih sejahtera dan berdaya guna. Semoga
segala perjuangan para pahlawan mampu merefleksi arti sebuah perjuangan di era
digital dengan melawan kemajuan dan kemiskinan dengan segala tantangan yang
dijawab lewat penerapan secara konkrit dalam menghadapi masalah-masalah sosial
termasuk pendidikan dan kemiskinan.

